Pernahkah kita merasakan kegelisahan jiwa yang sangat? Mungkin pernah. Bahkan lebih dari itu pun pernah kita alami.
Suatu malam yang senyap, saya terbangun dari lelapnya tidur. Peristiwa itu begitu menyisakan rasa yang tak terungkap. Saat terbangun, nafas ini berhenti. Antara sadar dan tidak. Saya bisa merasakan kondisi sekitar, sunyi, gelap, namun tetap saja tak bisa bernafas. Berapa lama berhenti bernafas saya tak tahu. Seakan-akan ada sesuatu yang menarik kaki dan tangan, seperti sesuatu yang mau pergi dari raga ini. Saat itu saya benar-benar ketakutan, berfikir apakah ini ajal saya? Padahal masih banyak hal yang belum dilakukan. Semua konsep tentang mati syahid, jihad, dan kematian terbang begitu saja. Ternyata saya takut mati?
Lalu kondisi pun kembali seperti semula. Namun setelah itu perenungan tentang perjalanan hidup yang sudah berpuluh tahun dijalani hadir di kepala. Betapa banyak ternyata hal yang sia-sia telah saya lakukan. Ketidakmaksimalan dan ketidakoptimalan masih menjadi mayoritas dalam hidup ini. Teringat kembali kisah masa lalu yang begitu membekas dalam hidup. Kondisi jiwa yang dulu begitu rapuh. Kehidupan di masa lalu, penuh dengan noda dan dosa. Tak akan kembali saat-saat yang pernah terjadi. Penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Air mata itu menetes, mengalir, hangat, seakan membersihkan hati yang ternoda.
Terkadang lisan ini berkata-kata, namun sungguh, Allah tidak menyukai perkataan yang tidak diiringi dengan perbuatan. Ingin rasanya waktu berputar kembali hingga dapat saya perbaiki seluruh hal yang pernah terjadi, tapi itu mustahil bukan? Hanya waktu yang tersisa yang bisa saya perbaiki Masih ada kesempatan. Masih ada ruang hati yang jernih. Masih ada harapan. Harapan memang menjadikan seseorang menjadi lebih kuat, karena saya yakin Allah sangat menyayangi hamba-hambaNya.
Sungguh, setiap langkah kita akan indah jika kita tapaki dengan kebaikan dan keteguhan berada di jalanNya. Tak ada hal terindah selain mendapat ridhoNya. Tak ada keindahan berukhuwah selain saling mendoakan dan mengingatkan. Wilayah bumi manapun tak akan pernah mampu memuliakan kita, hanya iman dan amal yang dapat memuliakan kita.
Suatu malam yang senyap, saya terbangun dari lelapnya tidur. Peristiwa itu begitu menyisakan rasa yang tak terungkap. Saat terbangun, nafas ini berhenti. Antara sadar dan tidak. Saya bisa merasakan kondisi sekitar, sunyi, gelap, namun tetap saja tak bisa bernafas. Berapa lama berhenti bernafas saya tak tahu. Seakan-akan ada sesuatu yang menarik kaki dan tangan, seperti sesuatu yang mau pergi dari raga ini. Saat itu saya benar-benar ketakutan, berfikir apakah ini ajal saya? Padahal masih banyak hal yang belum dilakukan. Semua konsep tentang mati syahid, jihad, dan kematian terbang begitu saja. Ternyata saya takut mati?
Lalu kondisi pun kembali seperti semula. Namun setelah itu perenungan tentang perjalanan hidup yang sudah berpuluh tahun dijalani hadir di kepala. Betapa banyak ternyata hal yang sia-sia telah saya lakukan. Ketidakmaksimalan dan ketidakoptimalan masih menjadi mayoritas dalam hidup ini. Teringat kembali kisah masa lalu yang begitu membekas dalam hidup. Kondisi jiwa yang dulu begitu rapuh. Kehidupan di masa lalu, penuh dengan noda dan dosa. Tak akan kembali saat-saat yang pernah terjadi. Penyesalan itu memang selalu datang terlambat. Air mata itu menetes, mengalir, hangat, seakan membersihkan hati yang ternoda.
Terkadang lisan ini berkata-kata, namun sungguh, Allah tidak menyukai perkataan yang tidak diiringi dengan perbuatan. Ingin rasanya waktu berputar kembali hingga dapat saya perbaiki seluruh hal yang pernah terjadi, tapi itu mustahil bukan? Hanya waktu yang tersisa yang bisa saya perbaiki Masih ada kesempatan. Masih ada ruang hati yang jernih. Masih ada harapan. Harapan memang menjadikan seseorang menjadi lebih kuat, karena saya yakin Allah sangat menyayangi hamba-hambaNya.
Sungguh, setiap langkah kita akan indah jika kita tapaki dengan kebaikan dan keteguhan berada di jalanNya. Tak ada hal terindah selain mendapat ridhoNya. Tak ada keindahan berukhuwah selain saling mendoakan dan mengingatkan. Wilayah bumi manapun tak akan pernah mampu memuliakan kita, hanya iman dan amal yang dapat memuliakan kita.
sujud syukurku pada ALLAH . SWT, subhanallah, shalawatku pada nabi muhammad SAW, dan terima kasihku buat shohibku hanan.....






0 comments:
Post a Comment